Afi Faradisa Blog

Recent Post

Popular Post

Fashion

Beauty

Breaking News

Travel

Written By afi nihaya on Saturday, August 19, 2017 | 3:53 AM

Ketika aku menerima bully yang begitu masif sejak kasus plagiarisme dan video curhatku mencuat ke publik, kuakui bahwa aku sangat tertekan. Perhatianku begitu terserap ke berbagai komentar dan pesan negatif, postingan sampah dari akun-akun gosip, serta berita-berita dari media yang sebagian besar tidak benar isinya. Dan aku lupa, bahwa ini sebenarnya cuma dunia maya. Aku pernah mengisi sebuah seminar, di sana aku jadi pembicara tunggal. Dari hampir 500 hadirin, tak satupun yang menampakkan kritikannya di muka umum, di hadapanku langsung. Meski berulang kali aku menyampaikan, "Saya ingin mendengar kritikan dari Anda, satuuuu saja". Baiklah, itu seminar universitas. Bagaimana dengan acara untuk warga biasa? Beberapa waktu lalu di Surabaya, aku diundang untuk berbicara di panggung terbuka. Benar-benar terbuka sehingga semua audiens bebas untuk pinjam mic dan bicara. Dan nyatanya, sampai acara berakhir, tak ada satupun dari 'pembenci' yang berdiri. Seburuk apapun komentar mereka, sebanyak apapun kritik dan hujatan yang pernah kuterima, tak ada yang pernah benar-benar menyerangku secara langsung di dunia nyata. Tak satupun. Ketika aku di kost, di kampus, ketika berjalan sendirian di jalanan, ketika aku keluar makan, ke pusat perbelanjaan, ke rumah sakit, ke masjid, tak ada yang menghampiriku lalu mengungkapkan kritik atau kebenciannya. Aku heran, ke mana saja mereka? Dan aku lupa, bahwa ini sebenarnya cuma dunia maya, dunia di mana ibu-ibu yang sudah separuh baya, para pria yang sekolah tinggi dan sarjana, serta gadis-gadis berpenampilan menarik bisa menulis komentar yang tidak mendidik. Saat profilnya kutilik, para manusia tuna-adab itu sebenarnya sama dengan kita semua. Mereka punya keluarga. Mereka berpose sangat baik di depan kamera. Mereka rajin pergi ke masjid, ke gereja, ke pura, ke wihara. Saat di meja makan atau saat berpapasan di jalan, mereka bersikap sangat sopan. Mengapa orang yang sehari-harinya terlihat santun dan menjunjung tata krama, ternyata gemar menghujat orang lain di media sosial dan kolom komentar berbagai situs berita? Saat mencari referensi atas keherananku ini, aku menemukan artikel yang dipublikasikan tahun 2004 oleh Profesor John Suler, seorang pakar psikologi, mengenai Online Disinhibition Effects (ODE) yang hingga kini masih sering dirujuk untuk menjelaskan perilaku online. ODE adalah fenomena yang begitu marak di era digital sekarang ini: pengguna internet seringkali melakukan dan mengatakan hal-hal yang tidak biasa mereka lakukan dan katakan di dunia nyata; entah hal positif (Benign Disinhibition) atau hal negatif (Toxic Disinhibition). See? Karena ini hanyalah dunia maya. Kalau begitu, biar kutunjukkan apa yang nyata. Kau berangkat sekolah dan sukses dalam pendidikanmu, itu nyata. Kau membantu tetangga dan bersikap ramah pada mereka, itu nyata. Kau bercengkrama dan menjaga hubungan baik dengan keluarga, itu nyata. Kau membuang sampah pada tempatnya, itu nyata. Kau menghormati praktik peribadatan umat lain agama, itu nyata. Ini hanya dunia maya, dunia yang dipenuhi wacana. Memang benar bahwa dunia maya, khususnya media sosial, adalah sarana berkomunikasi yang efektif dengan seluruh dunia. Kita jadi tahu informasi dari mana-mana, saat itu juga. Tapi, tsunami informasi juga membuat riuh pikiran. Misal, kita memang merasa puas saat ikutan ramai berdebat tentang siapa yang salah dan benar dalam tragedi amplifier musholla. Tak habis-habisnya kita berbicara. Namun, pertanyaan besarnya adalah: APAKAH KITA BENAR-BENAR MENGAMBIL TINDAKAN? Are people actually taking action? Or just hearing and talking about them? Apa kita benar-benar mengambil tindakan nyata dengan membantu kesejahteraan orang sekeliling agar mereka tak sampai harus jadi maling? Biarlah mereka ramai berdebat tentang Bu Elly Risman, vaksin, wanita karir atau ibu rumah tangga, dan pada akhirnya semua hal itu berakhir hanya sebatas jadi bahan omongan bibir. Itu seperti membahas politik yang panas tanpa kau pernah keluar dari perpustakaanmu yang sejuk dan berAC itu. Itu ibarat para pejabat yang berdiskusi perihal susahnya kehidupan para petani di hotel berbintang. Lagipula, isu-isu di media sosial cepat sekali berganti dalam sekian jam. Pagi ini muncul, besoknya sudah tenggelam. Dan ya, kita mengijinkan semua hal yang temporari itu merampok kedamaian pikiran. Nicholas Carr juga berkata, "When we go online, we enter an environment that promotes cursory reading, hurried and distracted thinking, and superficial learning." Dunia maya adalah lingkungan yang menawarkan aktivitas membaca yang sepintas, aktivitas berpikir yang terburu-buru dan terbagi-bagi, serta aktivitas belajar yang 'dangkal'. 'Kedangkalan' tersebut salah satunya tercermin dari kita yang menganggap bahwa kehidupan orang lain sebaik foto-foto di instagram mereka. Kita menjadi iri dan frustrasi ketika melihat foto liburan, gadget baru, atau kehidupan orang lain di kamera yang tampaknya sangat bahagia. Padahal, media sosial hanya merepresentasikan nol koma sekian persen dari 24 jam kehidupan orang. Apakah ada orang yang suka memotret wajah jeleknya ketika bangun tidur atau memotret ekspresi diri yang sedang kehabisan uang? Tak ada gunanya membanding-bandingkan, sebab kita tidak pernah tahu "behind the scene" dari kehidupan seseorang :) Dan lagi, aku menyadari bahwa menghabiskan terlalu banyak waktu di media sosial adalah BENTUK INVESTASI YANG PALING BURUK. It's the worst type of investment, for real. Karena waktu terlalu mahal untuk ditukar dengan aktivitas menatap handphone berjam-jam tanpa ada manfaatnya. *)Oleh Asa Firda Inayah Program studi S1 Psikologi Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta Tahun ajaran 2017/2018

0 comments:

Post a Comment

Afi Nihaya Faradisa Blog© 2014. All Rights Reserved. Template By Seocips.com
SEOCIPS Areasatu Adasenze Tempate Published By Kaizen Template